Perlu Diingat

Mengutip sebagian atau keseluruhan isi blog ini ke blog Anda dipersilahkan ASAL menyebut URL sumber tulisan dan/atau permanent link artikel yg dikutip.
Komentar, saran atau pertanyaan dapat diajukan melalui bukutamu, kotak komentar blog atau email ke: abdulasar@gmail.com.

Kamis, 08 Maret 2012

Ekonomi Kelahiran

Tahun ini bumi sudah dihuni 7 Miliyar manusia yang semuanya itu telah tersebar ke penjuru bumi. Dari 7 Miliyar penduduk bumi, 5 negara penyumbang populasi yang kian melonjak adalah China (1.332.451.196 jiwa), India (1.153.207.176 jiwa), Amerika Serikat (304.596.396 jiwa, Indonesia (238.315.176 jiwa) dan Brazil (197.036.192) *data 2008. 200 juta-an penduduk di indonesia bukanlah jumlah yang sedikit, apalagi indonesia saat ini statusnya masih sebagai negara yang sedang berkembang. Banyak dampak negatif dari banyak nya jumlah penduduk saat ini khususnya dalam masalah ekonomi yang sedang tidak menentu alur nya. Jumlah penduduk yang semakin tahun semakin bertambah, pemerintah entah bagaimana caranya harus berpikir mengatasi semua ini. Bagaimana tidak, dampak meledaknya populasi tidak dibarengi meledaknya pula kegiatan positif. Banyak kejahatan2 entah dari individu atau kelompok yang terjadi. Salah satu regulasi yang dibuat pemerintaj dengan mencanangkan Keluarga Berencana (KB). "2 Anak Lebih Baik" itulah slogan yang perlu dilakukan setiap warganya di negeri ini. Pemerintah tidak mau menerima anggapan masyarakat kebanyakan yang katanya "banyak anak banyak rizki". Pada kenyataannya, negeri ini telah dihuni oleh banyak pengangguran yang jumlahnya mencapai 8,12 juta orang *sumber detik.com

Kekhawatiran pemerintah dalam mengatasi jumlah penduduk seharusnya tidak dengan membatasi berapa anak yang harus dilahirkan pada tiap keluarga di negeri ini. Karena anak adalah anugrah yang diberikan tuhan dan karena mempunyai anak adalah hak setiap individu, dengan berdalih pemerintah ingin mengurangi jumlah pengangguran tapi harus mengorbankan warganya sendiri. Kalau hanya sekedar mengurangi jumlah pengangguran atau hanya meningkatkan kualitas individu dalam meningkatkan perekonomian negeri ini. Pemerintah bisa menjalankan program-program seperti penyuluhan dan pembinaan dini masyarakat menengah atau masyarakat pelajar yang nantinya tidak bingung harus melakukan apa setelah lulus nanti. Masih banyak teman-teman pelajar arah tujuan yang akan dijalaninya setelah lulus dari pendidikan formal. Keahlian terbatas, jiwa entrepreneur tidak dimiliki sama sekali. Inilah penyebab utama pengangguran yang sangat nyata. 12 tahun atau bahkan 16 tahun belajar, tapi mereka masih bingung apa yang harus mereka lakukan setelah ini.

Mendapatkan atau melahirkan adalah anugrah yang harus disyukuri, setiap anak pasti sudah punya jalannya tersendiri yang tuhan berikan kepadanya. Rizki sebagai contohnya. Ada sebuah kisah nyata dari daerah sekitar Jakarta yang masih terlalu muda untuk menjadi seorang jutawan disaat anak-anak seumurannya belum bisa mencari jati diri atau bahkan masih ketergantungan dengan orang tuanya hanya untuk berpacaran. Hammzah Izzulhaq adalah seorang yang masih belia karena diawali dengan keinginan nya untuk mandiri, dan sekarang omzet ratusan juta setiap bulannya. Kisah sukses nya bisa dilihat di link ini http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/remaja/12428-kisah-hamzah-izzulhaq-entrepreneur-sukses-berusia-18-tahun.html

Sekarang bagaimana jika kebijakan pemerintah "2 anak lebih baik". Dan kebetulan orang-orang seperti Hammzah-Hammzah lainnya jika gagal terlahir ke dunia yang seharusnya akan mampu menciptakan banyak lapangan pekerjaan, tapi dengan peraturan pemerintah yang mewajibkan untuk melakukan "Keluarga Berencana" (KB). Cukuplah hanya keluarga yang merencanakan yang seberapa banyak anak yang diinginkan di keluarga ini, keluarga lah yang mengerti sejauh mana mereka memahami kondisi yang mereka jalani saat ini. Yang dilakukan pemerintah hanyalah perlu untuk menggerakkan mutu individu apakah nantinya mereka akan menjadi pekerja yang bisa dinilah hasil kerjanya, ataukah menjadi entrepreneur yang mampu menciptakan banyak lapangan pekerjaan.

Ekonomi akan tergerak saat dimana Sumber Daya Manusia yang ada memiliki skill yang siap dijual atau individu yang siap untuk mendirikan perusahaan besar dan bermental tahan banting. Bukan karena harus membatasi jumlah birth rate agar perekonomian bergerak sebagaimana mestinya.

Original text by Abdul Aziz Sarwoto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar